Solo, Sineas kenamaan Indonesia, Eros Djarot, tersandung di Solo. Shooting film 'Lastri' yang disutradarainya diancam akan dibubarkan sekelompok orang karena menganggap film itu berbau komunis. Eros mengaku lebih baik menghentikan shooting karena tidak ada jaminan dari aparat keamanan.
"Shooting film kami tetap jalan, lokasinya tidak perlu kami sebutkan. Kami memang memilih menghentikan pengambilan gambar di PG Colomadu, Karanganyar, karena ada ancaman dari sekelompok orang akan membubarkan paksa. Sedangkan tidak ada jaminan keamanan dari aparat," ujarnya, Senin, (17/11/2008).
Dia sangat menyesalkan ulah segelintir orang yang mengatasnamakan warga lalu bertindak seolah penguasa tiran dengan melakukan pelarangan kerja-kerja kesenian. Dalih pelarangan tentang isi film juga dinilai tidak masuk akal karena mereka belum mengetahui secara utuh isi film tersebut.
"Mereka merasa sudah lebih tahu padahal filmnya belum jadi. Lagipula apa hak orang melarang-larang pembuatan film. Padahal kalau sebuah film sudah jadi dan dinyatakan Lembaga Sensor Film menyatakan film itu tidak layak ditayangkan maka film itupun tidak akan mempengaruhi siapa-siapa karena tidak bisa tayang," ujarnya.
Lebih lanjut Eros juga menyayangkan aparat keamanan yang seolah-olah membiarkan tekanan sekelompok orang terhadap kelompok masyarakat yang lain. Karenanya meskipun telah mengantongi izin pembuatan film dari Mabes Polri, dia merasa tidak ada jaminan keamanan dari aparat jika ada gangguan.
"Saya malah curiga jangan-jangan orang-orang main larang itu dan juga para tidak tahu batasan ajaran sebuah ideologi. Padahal tentang komunisme, saya ini salah satu penentang utamanya. Apakah kalau saya bikin film dengan setting waktu Orde Baru nanti juga akan dinilai membangkitkan semangat Orde Baru," tegas Eros.
Sementara itu Kapolwil Surakarta, Kombes (Pol) Taufik Anshorie mengatakan pada dasarnya Polri akan melindungi dan melayani semua lapisan masyarakat. Namun dalam pembuatan film 'Lastri' ada beberapa kasus khusus yang mengiringi proses pembuatannya di wilayah Surakarta.
"Cerita film itu bernuansa historis dan ada kandungan politisnya. Kami tidak pernah menolaknya, tapi karena ada resistensi yang makin membesar dan kita juga harus melihat suasana kebatinan masyarakat karena peristiwa G30S/PKI menimbulkan luka mendalam di masyarakat," ujarnya.
Karena itu Taufik menyarankan agar pembuatan film tersebut dipertimbangkan lagi untuk menghindari keresahan yang nanti dikhawatirkan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. "Ya bukan dihentikan, tapi sebaiknya dikaji ulang," ujarnya. (kilasberita.com/amz/dtc)
- Sarah Jessica Parker Garap Sekuel 'Sex and The City'
- James Bond Dipecundangi Vampire Tak Bertaring
- 'Harry Potter and The Deathly Hallows' Syuting di Skotlandia
- 'Kawin Kontrak Lagi' Hubungan Intim Tanpa Resiko
- 20th Century Fox Siapkan X-Men: 'First Class'
- Batman dan Joker Tidak Sanggup Kalahkan Titanic
- James Bond Mantap di Puncak Box Office
- The Dark Knight Kehilangan 1 Nominasi Oscar
- Kungfu Panda Hadapi Wall-E di Ajang Oscar
- Nuansa Mistis Kalimantan Dalam 'The Shaman'
Saham Wall Street berakhir naik pada Kamis karena lebih baik dari perkiraan data pekerjaan dan perumahan....
Penghargaan terhadap uang koin sangat rendah. Dalam transaksi di toko ritel, uang koin kerap digantikan permen untuk pengembalian....
Saya memiliki harta warisan berupa tanah dan rumah, Apakah harta tersebut saya keluarkan zakatnya juga...
"Kalau gedung lama masih bisa renovasi, ya, direnovasi."
...












Beberapa waktu yang lalu, penulis novel Spencer Pratt berniat menjual video seksnya bersama mantan istri, Heidi Montag, seharga Rp 44 Miliar. Namun kini Spencer berubah pikiran....
Presenter Cathy Sharon sempat mengunjungi Taiwan sebagai duta dari Indonesia untuk produk gadjet asal negera tersebut. Namun kakak Julie Estelle itu mengaku sempat minder karena berasal dari Indonesia....
