Jakarta, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali menaikkan BI Rate sampai level 9,5%. Namun kenaikan ini dinilai tidak pas dengan kondisi ekonomi yang sedang menggeliat karena hanya didorong kepanikan semata. Demikian diungkapkan ekonom Aviliani, Selasa (7/10/2008).
Menurut Aviliani, jika BI memaksakan kenaikan BI rate terus menerus, hal itu justru bisa memicu krisis finansial di Indonesia seperti halnya yang terjadi di AS. Hal ini karena dengan suku bunga yang tinggi maka akan banyak aliran dana yang masuk, sementara pengucuran ke sektor riilnya tersendat.
"Kalau dipaksakan akan jadi seperti krisis AS, aliran dana besar-besaran akan masuk dan menjadi penghambat ekonomi. Harusnya suku bunga tidak perlu naik, tapi sektor riil yang digenjot. Jadi ini seperti mengorbankan sektor mikro untuk sisi makronya," ujarnya.
Suku bunga yang tinggi menurut Aviliani, hanya akan membuat risiko Non Perfoming Loan (NPL) perbankan makin tinggi karena akan makin banyak nasabah yang kesulitan melunasi kreditnya. Padahal, pertumbuhan kredit nasional sedang tinggi-tingginya karena didorong oleh berbagai kebijakan pemerintah seperti KUR dan letter of guarantee untuk sektor infrastruktur.
Saking tingginya pertumbuhan kredit, Aviliani mengakui, perbankan kini mengalami kekurangan likuiditas. Untuk menanganinya, seharusnya pemerintah memberikan bantuan likuiditas, bukan justru mengerem pertumbuhan kredit.
"Harusnya pemerintah bantu mengatasi likuiditas, karena pertumbuhan kredit sudah digerakkan sedemikian rupa. Sayang sekali kalau sampai harus direm," ujarnya. (kilasberita.com/amz/dtc)
- BI Rate Naik ke Level 9,5%
- Pemerintah dan BI Koordinasi Antisipasi Dampak Krisis Global
- Sofyan Djalil Jadi Menkeu Ad Interim
- Lotte Ambil Alih Makro dari SHV Holdings
- Astro Gugat Lippo ke Arbitrase Singapura
- Pasar Saham Turun, Obligasi Alami Tekanan
- Rupiah Bisa Tembus 10000
- Harga Minyak Dunia Merosot Tajam
- Proyek Pertamina Aman Karena Tak Andalkan Dana AS
- BUMN Diminta Bawa Pulang Dolarnya











