Jakarta, PT Pertamina (persero) membukukan pendapatan sebesar Rp 444 triliun hingga triwulan ketiga 2008. Pendapatan sebesar ini sudah mencapai sekitar 88% dari target tahun ini yang sebesar Rp 500 triliun.
Dengan pendapatan sebesar itu, maka Pertamina mendapat kenaikan sebesar 13% dari pendapatan sepanjang tahun lalu yang sebesar Rp 390,199 triliun.
Demikian dipaparkan Wakil Direktur Pertamina Iin Arifin Takhyan dalam rapat dengan Komisi VI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (3/12/2008) malam.
"Kita akan pertahankan ini sehingga target akhir tahun bisa tercapai," kata Iin.
Dalam paparan tertulis, Pertamina terlihat mencatat kenaikan pendapatan terbesar yang mempengaruhi kenaikan pendapatan Pertamina dari selisih harga penjualan BBM PSO.
Pada 2007, pendapatan dari selisih harga penjualan BBM PSO sekitar Rp 82,876 triliun. Namun pendapatan ini mengalami kenaikan pada tahun ini, dimana hingga September 2008 saja sudah mencapai Rp 120,777 triliun.
Namun di sisi lain, laba usaha Pertamina hingga triwulan ketiga tahun ini hanya naik tipis dari laba sepanjang 2007. Pada 2007 Pertamina membukukan laba Rp 24,460 triliun, sedangkan hingga September 2008 laba Pertamina adalah Rp 24,994 triliun.
PT Pertamina akan merevaluasi dan merestrukturisasi seluruh akan usahanya supaya bisa lebih fokus kepada bisnis inti perseroan. Beberapa anak usaha akan didivestasi.
Hal tersebut dikemukakan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Takhyan.
"Untuk anak usaha kita yang kecil dan bisnisnya terus rugi akan didivestasi. Lalu yang masih berpotensi kita sehatkan dulu lalu kita serahkan kepada PPA (Perusahaan Pengelola Aset)," katanya.
Ia mengatakan, anak usaha yang pasti akan dilepas Pertamina adalah yang tidak terkait langsung dengan bisnis inti perseroan. Hingga saat ini, rencana tersebut masih dalam kajian manajemen, sehingga Ia masih enggan untuk memberikan detailnya.
"Angka-angkanya (penjualan anak usaha) belum bisa disebutkan sekarang. Kita kan lagi bereskan dulu semua anak usaha kita," ungkapnya.
Ia mengatakan, untuk anak usaha yang langsung menunjang bisnis inti akan dipertahankan dengan cara menyehatkannya terlebih dahulu. "Kalau yang menunjang tidak akan masuk PPA karena masih kita perlukan," ujarnya.
Ia mengatakan, anak usahanya yang masih menunjang bisnis inti Pertamina antara lain yang bergerak di sektor suplai dan distribusi, perkapalan, jasa pengeboran, jasa pemeliharaan dan engineering.
Sedangkan sektor bisnis yang diharapkan bisa tumbuh menjadi bisnis inti Pertamina antar lain sektor industri geothermal, petrokimia, LNG, distribusi gas, dan bahan bakar nabati.
Anak usaha Pertamina yang sedang dikaji rencana divestasinya antara lain yang bergerak di bidang IPP bahan bakar gas, retail gas kota, biofuel feedstock plantation, asuransi, dana pensiun, jasa hukum, layanan kesehatan, konstruksi dan manufaktur, travel dan akomodasi, real estate dan properti.
Dengan direstrukturisasi anak usahanya tersebut, untuk ke depannya Pertamina diharapkan bisa fokus pada bisnis inti yaitu eksplorasi dan produksi serta pengolahan dan pemasaran. (kilasberita.com/amz/dtc)
- Harga Premium dan Solar Harus Turun Sekarang Juga!
- Pola Distribusi Gula Rafinasi Tertutup
- Petinggi Big 3 Otomotif AS Siap DiGaji 1 Dolar
- Pemerintah Revisi Target Ekspor 2009
- BNI Dapat DPK Rp 6 Triliun
- Telkom Minta Pemerintah Tidak Tambah Operator Telekomunikasi
- Telkom Akan Buat Super Portal
- Pertamina Skors Puluhan SPBU
- Potensi Ekspor Mebel Indonesia Hilang US$ 250 Juta
- Pemerintah Siapkan 3 Langkah Batasi Impor











