Jakarta, Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berjatuhan karena baru merespons negatif krisis finansial di AS setelah sebelumnya libur panjang lebaran.
Pada penutupan perdagangan saham sesi I, Senin (6/10/2008) IHSG turun tajam 99,846 poin (5,45%) menjadi 1.732,661.
Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 12.00 WIB anjlok poin ke posisi 9.565 per dolar AS. Pengamat valas Farial Anwar menilai, unsur spekulasi lebih dominan pada pelemahan rupiah kali ini karena penurunannya yang sangat tajam.
"Ini sudah level yang mengkhawatirkan, pasar panik dengan krisis di AS dan imbasnya menjalar kesini," ujar Farial ketika dihubungi Senin (6/10/2008).
Farial menilai pelemahan rupiah di awal pekan ini adalah info yang paling menyedihkan. Krisis di AS telah membuat pelaku pasar panik dan berburu dolar AS karena khawatir dolar bisa tembus ke level 10.000 per dolar AS.
Investor asing diduga mencairkan investasinya di Indonesia karena krisis di AS telah membuat investor tersebut kesulitan likuidtas.
"Orang butuh dolar AS, salah satu cara mereka menjual aset terutama finnasial seperti SBI, SUN, saham untuk mendapatkan likuiditas," katanya.
Sementara itu, IHSG mengikuti kejatuhan bursa saham Asia seperti Hang Seng turun 3,35%, Seoul turun 4,43%, KOSPI turun 4,36%, Nikkei turun 4,54%, Shanghai turun 3,52%, STI Singapura turun 3,27%.
Perdagangan saham sesi siang di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi sebanyak 28.217 kali, dengan volume 2,183 miliar unit saham, senilai Rp 2,238 triliun. Sebanyak 9 saham naik, 167 saham turun dan 7 saham stagnan.
Saham-saham yang anjlok harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 700 menjadi Rp 2.500, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 150 menjadi Rp 2.500, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 190 menjadi Rp 1.270, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 400 menjadi Rp 5.000 dan Timah (TINS) turun Rp 310 menjadi Rp 1.350.
"Kelihatannya penurunan IHSG masih digerakkan isu seputar bailout," ujar analis PT Sarijaya Securities, Trisin Ismail saat dihubungi Senin (6/10/2008).
Menurut Trisin, pasar kurang merespon disetujuinya rencana bailout US$ 700 miliar lantaran banyak pelaku pasar menilai bahwa kucuran dana tersebut bukan suatu solusi jangka panjang terhadap krisis finansial belakangan ini.
Pendapat Trisin sekaligus menyanggah isu yang mengatakan bahwa pelaku pasar masih menunggu kucuran dana US$ 700 miliar tersebut benar-benar terlaksana baru kondisi pasar modal akan kembali normal.
"Kalau kita lihat sebenarnya dengan ditandatanganinya bailout, itu sudah merupakan kepastian bahwa dana tersebut pasti akan dikucurkan. Jadi seharusnya memberikan sentimen positif ke pasar. Artinya pelaku pasar melihat pada isu lain untuk masuk ke pasar," jelas Trisin.
Trisin mengungkapkan, pelaku pasar menilai kucuran US$ 700 miliar tersebut hanya akan memberikan solusi bagi bankir-bankir AS saja, bukan solusi bagi masalah kredit yang nyata di masyarakat.
"Sepertinya untuk di Indonesia, pelaku pasar masih menunggu pengumuman inflasi untuk masuk ke pasar, serta kebijakan pemerintah ke depan mengenai ekonomi makro dan sektor riil," jelas Trisin.
Sembari menunggu inflasi dan kebijakan pemerintah, Trisin memperkirakan pelaku pasar di Indonesia akan cenderung bermain aman sepanjang Oktober ini. Investor diperkirakan akan mengincar saham-saham yang bisa memberikan keuntungan bukan dari gain.
"Sepertinya investor disini akan mengincar saham-saham yang akan membagikan deviden dalam waktu dekat seperti TLKM dan ASII, paling tidak sampai Oktober ini. Mereka cenderung main aman," ujar Trisin. (kilasberita.com/dms/dtc)
- Saham Bakrie Paling Banyak Kena Imbas Melemahnya IHSG
- Saham Anjlok BUMI Buy Back Saham 10%
- Bursa Saham Asia Kelabakan Hadapi Krisis Finansial
- IHSG Diprediksi Akan Jatuh Lagi
- Indeks Dow Jones Terburuk Dalam 4 Tahun Terakhir
- Rupiah di Level 9.500/US$
- Pergerakan Rupiah Terpengaruh Inflasi
- IHSG Rawan Melemah Pasca Libur
- Rush Mewabah di AS, Eropa dan Asia
- Rupiah Sambut Libur di Level 9.420/US$S









