Jakarta, Penurunan suku bunga acuan atau BI Rate dinilai sudah waktunya. Bank Indonesia diminta jangan berlindung di balik alasan fluktuasi rupiah demi menahan posisi BI Rate yang kini di level 9,5%.
"BI nggak perlu takut lagi menurunkan BI Rate, kalau alasan bisa memicu keluarnya dolar AS itu sudah tidak relevan lagi karena dolar AS sudah lama keluar," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, Kamis (4/12/2008).
Turunnya inflasi di November yang menjadi 0,12% dari Oktober sebesar 0,45% menurut Sofjan bisa jadi momentum penurunan BI Rate. Minimal BI memberikan sinyal penurunan suku bunga ini sebagai upaya mengurangi keleseuan ekonomi akibat krisis global.
"Kalau BI Rate turun itu lebih banyak positifnya dari pada negatifnya, sektor riil benar-benar berharap ada stimulus berupa penurunan bunga ini," ujar Sofjan.
BI juga akan terlihat aneh sendiri jika menjaga ekonomi Indonesia dengan tidak menurunkan BI Rate, karena tren negara di dunia justru memangkas suku bunganya untuk menstimulus ekonomi yang sedang jatuh.
Sofjan berharap penurunan BI Rate kali ini bisa mencapai 50 basis poin sehingga dampaknya lebih terasa untuk sektor riil. Karena tingginya bunga kredit saat ini telah membebankan gerak sektor riil ditambah ketatnya likuiditas.
Saat ini kata Sofjan, rata-rata suku bunga kredit dari bank terhadap pengusaha besar di kisaran 12%-15%, pengusaha menengah 18% dan untuk konsumen 24%.
"Memang penurunan BI Rate tidak langsung dirasakan butuh waktu 3 bulan untuk penyesuaiannya, tapi secara langsung memberikan efek psikologis untuk masyarakat bahwa beratnya suku bunga mulai sedikit berkurang," katanya. (kilasberita.com/amz/dtc)
- Turun 25 bps BI Rate Gak Ada Gregetnya
- Harga Minyak Turun, Wall street Melemah Lagi
- BI Rate Turun Jadi 9,25%
- Rupiah dan IHSG Semangat ke Jalur Hijau
- Konversi Kredit Dolar ke Rupiah CIMB Niaga Tambah Kucuran Kredit
- Rupiah Tunggu Konfirmasi BI Rate
- Investor Tunggu Hasil Rapat Dewan Gubernur BI
- Wall Street Kembali Menggeliat
- Blue Bird Beli Aset Darya Varia
- Jamsostek Anggarkan Rp 200 Miliar Beli Saham Baru











